Ternyata pacaran itu sunnah,,;))

Ada pemandangan menarik ketika bertemu jamaah asal India, Pakistan, Bangladesh, Turki, atau dari Benua Afrika. Telapak kaki mereka hitam kemerahan seperti terkena cat. Warna pada telapak kaki itu bisa terlihat sampai sisi batas putih kulit hingga mendekati mata kaki.

Tak hanya telapak kaki mereka saja yang diwarnai tapi juga telapak tangan, dan bahkan janggut bagi lelaki berusia lanjut. Warna merah kecoklatan yang gelap itu juga dibentuk dengan beragam motif pada telapak tangan.

Pewarnaan pada kulit, rambut dan kuku itu menggunakan sejenis tanaman yang di Tanah Air disebut daun pacar. Setelah dikeringkan, ditumbuk dan diadoni dengan air hingga kental dan lembut, maka siap dibalurkan pada kuku, kulit, rambut, hingga janggut. ”Warnanya coklat kemerahan seperti ini. Namanya hena,” kata Shaheen asal Punjab, India sambil memperlihatkan telapak tangannya.

Penggunaan warna itu sudah tradisi, katanya. Setiap orang India Muslim yang pergi ke Tanah Suci sering mewarnai tubuhnya dengan hena. Selain indah, kata Shaheen, pewarnaan merupakan bagian dari ibadah. Warna itu bertahan hingga beberapa bulan dan tak bisa dihapus kecuali memotong janggut, rambut, atau kuku yang diwarna. Jika dikulit, maka seiring waktu akan terhapus sendiri.

Mewarnai kuku dengan pacar merupakan kebiasaan perempuan Arab sejak dahulu. Rasulullah SAW pada haji terakhir memerintahkan jamaah yang ikut untuk mewarnai rambut dan janggutnya dengan pacar. ”Waktu itu, Nabi memeritahkan demikian supaya kelihatan gagah dan kaya di hadapan bangsa Quraisy yang ada di Makkah. Janggut mereka dibalur pacar sampai berwarna coklat,” kata Wakil Kepala Daerah Kerja (Wakadaker) Makkah Bidang Pelayanan Ibadah, Asnawi Muhammadiyah di Wisma Haji Indonesia, Aziziah, Makkah, Arab Saudi.

Perintah itu terjadi pada tahun 10 hijriah, tiga bulan sebelum Rasulullah wafat. Saat itu, Rasulullah akan melakukan Haji Wada. Pada kesempatan itu, jamaah juga membawa hewan-hewan sembelihan dan membagikan dagingnya kepada rakyat. ”Beliau ingin memperlihatkan kepada Bangsa Quraisy kalau umat muslim itu gagah dan kaya. Sejak saat itulah, penggunaan pacar untuk mewarnai rambut, kuku, kulit, dan janggut itu dianggap sunnah.”

Memakai pacar tak cuma untuk keindahan dan kepuasan hati tapi juga bermanfaat untuk kesehatan. Kaki dan telapak kaki yang dibalur dan diwarnai pacar itu tak akan kekeringan atau retak-retak, baik di musim kering, maupun dingin. Kalau ada luka yang sulit kering, maka diborehkan bubuk pacar, luka pun akan sembuh dalam beberapa hari. ”Jadi, sebenarnya, pemakaian pacar itu sunah bagi orang-orang yang akan bepergian jauh atau berperang.”

Dalam ibadah perhajian ini, sambung Asnawi, ada pula waktu yang disebut ‘Yaumul Zina’ yang jatuh pada 7 Dzul Hijjah. Saat itu jamaah menyempurnakan hiasan pacar di tubuhnya sebagai persiapan menjelang puncak haji. Pacar boleh digunakan karena tak menghalangi wudhu. Hanya, kata Asnawi, ada syaratnya bahwa pacar yang digunakan harus yang bubuk. Jika menggunakan adonan jadi, ia khawatir sudah bercampur dengan yang lain dan menghalangi wudhu. Di Tanah Suci, terutama musim haji, pacar banyak dijual di pasar. Ada yang membeli bubuk tapi ada juga yang sudah berbentuk pasta untuk dijadikan oleh-oleh pulang ke Tanah Air.

Sumber::Republika online (http://www.republika.co.id/jurnalhaji/detail.asp?id=316469&kat_id=106&kat_id1=399)

Satu Tanggapan ke “Ternyata pacaran itu sunnah,,;))”

  1. Said Berkata:

    Asyik dong kalau pacaran itu sunnah..;))

    Ternyata pacar yg kayak gitu,,

Tinggalkan Balasan